Mimpi!!
Cerita ini akan berawal dari kisah itu. Tentang anak kecil yang menangis, menangis sejadi-jadinya, tentang ia yang mencoba bertahan bersama sejuta mimpinya hingga saat ini.
peristiwa yang membuatnya sadar tentang mimpi yang sesungguhnya, bukan sekedar mimpi tapi sebuah impian yang ingin ia wujudkan.
"Ayah.!???!!" ia memanggil nama itu, berulangkali tanpa meneteskan airmata. ia tidak menangis untuk hal yang kecil seperti itu. sekali lagi, ia menyebut nama itu "Ayah??!!".
peristiwa yang membuatnya sadar dan bertahan selama ini, hatinya menangis ketika mengingat kembali peristiwa itu. hatinya sudah lebih awal meneteskan airmata namun tidak dengan matanya. "Mama???" ia berbalik ke arah mamanya, melihat reaksi mamanya yang seperti itu, ia kembali berteriak"Ayah??!!". Ayahnya berbalik sambil menghapus airmata, dan berkata "ia, nak. kamu harus memilih, Ayah atau mamamu?kalau ingin ikut ayah, sekarang juga kita pergi!". pilihan yang sulit untuk anak seusianya, mendengar hal itu, anak kecil itu diam sejenak dan menjawab "Ayah,jam 1 siang ini aku harus ke sekolah, akan ada ulangan harian hari ini." ayahnyapun menjawab "oke, kalau gitu kamu berarti pilih mamamu".
ia menangis, akhirnya air mata yang ditahannya sejalk tadi harus turun juga, ia menangis dan berteriak "Ayah?? bukan itu maksud aku, Ayah?? jangan tinggalkan Ama!!!Ayah??" ia menangis sambil terus berteriak menyebut nama itu. Sungguh orang dewasa tidak mengerti. "sungguh, orang dewasa selalu benar-benar sulit dimengerti, tapi selalu tidak mengerti aku!!" ia ngin menangis dan bergumam di dalam hatnya. "Ayah?, bukan itu maksud dari perkataanku, sungguh saat ini yang benar-benar aku pikirkan adalah sekolah hanya itu, aku tidak ingin ada peristiwa ini, tidak ingin dengan melihat tangisan mama, dan juga tidak ingin dengan pilihan ini." ia terus menagis sambil mamanggil ayahnya. Waktu, tempat, hampara tanah depan rumah dan panasnya terik matahari siang itu menjadi saksi akan tulusnya hati seorang anak kecil yang hanya ingin sekolah, tidak untuk yang lain dari itu.
lahir dari keluarga yang berkecukupan, dirinya tidak memikirkan hal lain selain barbagai impian yang ada dipikiran anak kecil seusiaya, setidaknya cukup untuk hanya memikirkan sekolah. lagipula selama ini ayah dan ibunya tidak pernah menuntut apa apa darinya hanya belajar yang menjadi tugasnya selama ini. Ayah bekerja dan ibu sebagai ibu rumah tangga, memiliki 1 orang kakak dan tiga orang adik yang masih agak kecil. Hidup yang lengkap dan berkecukupan bersama-sama. hingga peristiwa itu terjadi di usia nya yang belum cukup dewasa dan mengerti tentang arti perpisahan itu. duduk di kelas 1 SMP, anak remaja yang bar saja melepas rok merahnya dan berganti biru, anak yang baru saja melepas statusnya sebagai anak kecil menjadi anak remaja.
Ayahnya pergi meninggalkan istri dan kelima anaknya, istri yang tidak memiliki pekerjaan dan kelima anaknya yang masih membutuhkannya.
hari-hari yang ia jalani setelah itu awalnya menjadi mimpi buruk baginya tapi seiring berjalannya waktu membuat ia menjadi dewasa.
Cerita ini akan berawal dari kisah itu. Tentang anak kecil yang menangis, menangis sejadi-jadinya, tentang ia yang mencoba bertahan bersama sejuta mimpinya hingga saat ini.
peristiwa yang membuatnya sadar tentang mimpi yang sesungguhnya, bukan sekedar mimpi tapi sebuah impian yang ingin ia wujudkan.
"Ayah.!???!!" ia memanggil nama itu, berulangkali tanpa meneteskan airmata. ia tidak menangis untuk hal yang kecil seperti itu. sekali lagi, ia menyebut nama itu "Ayah??!!".
peristiwa yang membuatnya sadar dan bertahan selama ini, hatinya menangis ketika mengingat kembali peristiwa itu. hatinya sudah lebih awal meneteskan airmata namun tidak dengan matanya. "Mama???" ia berbalik ke arah mamanya, melihat reaksi mamanya yang seperti itu, ia kembali berteriak"Ayah??!!". Ayahnya berbalik sambil menghapus airmata, dan berkata "ia, nak. kamu harus memilih, Ayah atau mamamu?kalau ingin ikut ayah, sekarang juga kita pergi!". pilihan yang sulit untuk anak seusianya, mendengar hal itu, anak kecil itu diam sejenak dan menjawab "Ayah,jam 1 siang ini aku harus ke sekolah, akan ada ulangan harian hari ini." ayahnyapun menjawab "oke, kalau gitu kamu berarti pilih mamamu".
ia menangis, akhirnya air mata yang ditahannya sejalk tadi harus turun juga, ia menangis dan berteriak "Ayah?? bukan itu maksud aku, Ayah?? jangan tinggalkan Ama!!!Ayah??" ia menangis sambil terus berteriak menyebut nama itu. Sungguh orang dewasa tidak mengerti. "sungguh, orang dewasa selalu benar-benar sulit dimengerti, tapi selalu tidak mengerti aku!!" ia ngin menangis dan bergumam di dalam hatnya. "Ayah?, bukan itu maksud dari perkataanku, sungguh saat ini yang benar-benar aku pikirkan adalah sekolah hanya itu, aku tidak ingin ada peristiwa ini, tidak ingin dengan melihat tangisan mama, dan juga tidak ingin dengan pilihan ini." ia terus menagis sambil mamanggil ayahnya. Waktu, tempat, hampara tanah depan rumah dan panasnya terik matahari siang itu menjadi saksi akan tulusnya hati seorang anak kecil yang hanya ingin sekolah, tidak untuk yang lain dari itu.
lahir dari keluarga yang berkecukupan, dirinya tidak memikirkan hal lain selain barbagai impian yang ada dipikiran anak kecil seusiaya, setidaknya cukup untuk hanya memikirkan sekolah. lagipula selama ini ayah dan ibunya tidak pernah menuntut apa apa darinya hanya belajar yang menjadi tugasnya selama ini. Ayah bekerja dan ibu sebagai ibu rumah tangga, memiliki 1 orang kakak dan tiga orang adik yang masih agak kecil. Hidup yang lengkap dan berkecukupan bersama-sama. hingga peristiwa itu terjadi di usia nya yang belum cukup dewasa dan mengerti tentang arti perpisahan itu. duduk di kelas 1 SMP, anak remaja yang bar saja melepas rok merahnya dan berganti biru, anak yang baru saja melepas statusnya sebagai anak kecil menjadi anak remaja.
Ayahnya pergi meninggalkan istri dan kelima anaknya, istri yang tidak memiliki pekerjaan dan kelima anaknya yang masih membutuhkannya.
hari-hari yang ia jalani setelah itu awalnya menjadi mimpi buruk baginya tapi seiring berjalannya waktu membuat ia menjadi dewasa.
Komentar
Posting Komentar