Puisi


Ayah
Dulu,
Aku begitu mengagumimu
Aku begitu menghormatimu
Aku begitu menyayangimu
Aku begitu mencintaimu

Entahlah,
Goresan luka yang kau lukiskan
Duri yang kau tusukkan
Noda yang kau torehkan                             
Mungkin hanya hal kecil bagimu dan bagi sebagian orang
Tapi bagiku itu cukup untuk menghapus sosok idola, dirimu di hatiku

Hari itu, pertengkaran itu, keputusan itu, tangisan itu, perpisahan itu
Cukup meruntuhkan mozaik-mozaik yang kususun
Meruntuhkan sosok dirimu
Menghapus memori indah yang  ada
Aku hilang arah, sungguh aku tak tahu harus melangkah kemana
Aku bingung, sungguh itu membuatku pusing
Aku menangis, sungguh itu sangat menyakitkan

Entahlah, anak polos yang bodoh itu hanya bisa terus menangis, berharap kau bisa menahan langkahmu agar tidak menjauh
saat itu, kau berhenti, aku tahu kau pasti tidak akan meninggalkan kami, kau memelukku, aku tahu kau menyayangiku
tapi, harapanku pupus, saat kau membisikkan kata maaf dan memberikan pilihan itu padaku
kau tahu?? Itu pilihan yang sangat berat untuk anak seumurku
entahlah, aku harus menyalahkanmu atau mamaku
entahlah, aku harus memilihmu atau memilih mamaku
yang kutahu saat itu, sekolah belum libur dan aku masih harus pergi ke sekolah
dan ternyata kau anggap itu sebagai jawaban dan kau pergi

saat ini,
yang kutahu kau sungguh telah menorehkan kenangan buruk untukku
aku hidup dengan itu sampai saat ini

Haruskah kita memilih satu, saat sebenarnya bisa untuk memilih dua-duanya???
Aku memang kadang begitu egois
Salahkah jika aku memilih keduanya??? Haruskah ada pilihan itu??



-Dwi Rahmaniar-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan Iseng~~

Mian

omma, mian :)